Kajian

UPAYA MERINTIS SISTEM JAMINAN GIZI NASIONAL: KFI MELAKUKAN ESTIMASI KONTRIBUSI GIZI MIKRO KONSUMSI KOMODITAS PANGAN FORTIFIKASI WAJIB MELALUI ANALISIS DATA SUSENAS 2023-2025

“Evaluasi berdasarkan data Susenas 2023–2025 ini menegaskan bahwa fortifikasi pangan wajib telah menjadi instrumen kebijakan publik yang efektif dalam meningkatkan asupan zat gizi mikro pada tingkat rumah tangga. Namun, manfaatnya masih perlu diperkuat agar lebih merata, terukur, dan berkelanjutan.” Indonesia masih menghadapi kekurangan zat gizi mikro yang berdampak pada kesehatan, produktivitas, dan kualitas sumber daya …

UPAYA MERINTIS SISTEM JAMINAN GIZI NASIONAL: KFI MELAKUKAN ESTIMASI KONTRIBUSI GIZI MIKRO KONSUMSI KOMODITAS PANGAN FORTIFIKASI WAJIB MELALUI ANALISIS DATA SUSENAS 2023-2025 Selengkapnya »

DARI REGULASI KE IMPLEMENTASI: PEMETAAN KETERSEDIAAN DATA DAN ANALISIS KESENJANGAN DALAM PENGUATAN KESIAPAN INDUSTRI, KEPATUHAN, DAN DAMPAK PROGRAM FORTIFIKASI PANGAN SKALA BESAR (LSFF) DI INDONESIA

Pengantar Fortifikasi pangan diposisikan sebagai elemen strategis dalam transformasi sistem pangan menuju sistem yang berkelanjutan, sehat, dan tangguh, berbasis sumber daya serta kearifan lokal, sebagaimana diamanatkan dalam RPJPN 2025–2045. Komitmen ini diperkuat dalam RPJMN 2025–2029[1], yang menempatkan fortifikasi pangan dan biofortifikasi sebagai bagian penting dari intervensi gizi dalam pembangunan manusia. Sejalan dengan itu, fortifikasi pangan …

DARI REGULASI KE IMPLEMENTASI: PEMETAAN KETERSEDIAAN DATA DAN ANALISIS KESENJANGAN DALAM PENGUATAN KESIAPAN INDUSTRI, KEPATUHAN, DAN DAMPAK PROGRAM FORTIFIKASI PANGAN SKALA BESAR (LSFF) DI INDONESIA Selengkapnya »

Mengisi Kesenjangan Data Fortifikasi Wajib: KFI Diseminasikan Profil Konsumsi Pangan Fortifikasi dan Asupan Gizi Mikro Berdasarkan Analisis Data SUSENAS 2024

Oleh: Milatul Mustaqimah Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki beberapa program fortifikasi pangan wajib. Fortifikasi wajib garam dengan yodium sudah dilakukan sejak zaman Hindia Belanda tahun 1927. Kemudian dijeda pada zaman kemerdekaan, dan dimulai lagi pada tahun 1994. Fortifikasi wajib tepung terigu dengan zat besi (Fe), seng (Zn), asam folat dan beberapa Vitamin B …

Mengisi Kesenjangan Data Fortifikasi Wajib: KFI Diseminasikan Profil Konsumsi Pangan Fortifikasi dan Asupan Gizi Mikro Berdasarkan Analisis Data SUSENAS 2024 Selengkapnya »

KFI Menerbitkan Artikel Jurnal Berjudul : Kontribusi Konsumsi Minyak Goreng Sawit Kemasan terhadap Asupan Vitamin A

Pada 30 September 2024, KFI menerbitkan artikel pada Jurnal Ilmu Gizi dan Dietetik berjudul Kontribusi Konsumsi Minyak Goreng Sawit Kemasan terhadap Asupan Vitamin A. Artikel tersebut dilatar belakangi masalah kekurangan asupan vitamin A yang merupakan masalah serius dan berdampak pada pertumbuhan anak-anak. Disamping suplementasi vitamin A dosis tinggi, pemerintah juga berupaya dengan mencanangkan program fortifikasi …

KFI Menerbitkan Artikel Jurnal Berjudul : Kontribusi Konsumsi Minyak Goreng Sawit Kemasan terhadap Asupan Vitamin A Selengkapnya »

Analisis Vitamin A pada Minyak Goreng Sawit Fortifikasi

Kementerian Perindustrian atas permintaan Kementerian Kesehatan telah menetapkan Pemberlakuan SNI MGS (Minyak Goreng Sawit) nomor 7709 Tahun 2012 secara wajib dan diperbarui melalui SNI nomor 7709 Tahun 2019. SNI ini selain mengatur tentang persyaratan MGS secara rinci juga mengatur kandungan vitamin A yang harus ada pada MGS kemasan sebesar 45 IU di tingkat produsen. Sejak …

Analisis Vitamin A pada Minyak Goreng Sawit Fortifikasi Selengkapnya »

BUKU USULAN KFI TENTANG SISTEM PEMANTAUAN DAN EVALUASI FORTIFIKASI PANGAN SKALA LUAS DI INDONESIA

Buku Usulan KFI Tentang Sistem Pemantauan dan Evaluasi Fortifikasi Pangan Skala Luas di Indonesia dirumuskan oleh Koalisi Fortifikasi Indonesia (KFI) dibantu International Center for Nutrition Studies (ICONS) UNHAS sebagai usulan kepada pemerintah untuk mengembangkan sebuah sistem pemantauan dan evaluasi yang efektif dan berkelanjutan dalam mendukung program FPSL. Pengembangan sistem yang diusulkan bertujuan untuk memastikan keberlanjutan …

BUKU USULAN KFI TENTANG SISTEM PEMANTAUAN DAN EVALUASI FORTIFIKASI PANGAN SKALA LUAS DI INDONESIA Selengkapnya »

CO-DIREKTUR KFI PUBLIKASIKAN KAJIAN TENTANG POTENSI BERAS FORTIFIKASI DALAM SISTEM PERLINDUNGAN SOSIAL DI INDONESIA

Co-Direktur Koalisi Fortifikasi Indonesia (KFI), Prof. Drajat Martianto, bekerja sama dengan Global Alliance for Improved Nutrition (GAIN), Kementerian Kesehatan (Kemenkes), dan Badan Pangan Nasional, baru-baru ini merilis sebuah publikasi berjudul “Filling Indonesia’s Micronutrient Gap: The Potential of Fortified Rice in Social Protection System.” Publikasi ini disusun oleh Prof. Drajat bersama empat penulis lainnya, yaitu Aang …

CO-DIREKTUR KFI PUBLIKASIKAN KAJIAN TENTANG POTENSI BERAS FORTIFIKASI DALAM SISTEM PERLINDUNGAN SOSIAL DI INDONESIA Selengkapnya »

RESPONS KOALISI FORTIFIKASI INDONESIA (KFI) TERHADAP KELANGKAAN KALIUM IODAT (KIO3) DI INDONESIA

Kalium Iodat (KIO3) merupakan bahan baku dalam produksi garam konsumsi beryodium. Sesuai dengan Standar Nasional Indonesia (SNI) Garam Berkonsumsi Beriodium 3556: 2016, kandungan minimal KIO3 pada garam konsumsi minimum 30 ppm. Selama ini, kebutuhan KIO3 untuk kebutuhan produksi garam beryodium di pasok oleh PT Kimia Farma (Persero). Namun, berdasarkan surat dari APROGAKOP Pati yang ditujukan …

RESPONS KOALISI FORTIFIKASI INDONESIA (KFI) TERHADAP KELANGKAAN KALIUM IODAT (KIO3) DI INDONESIA Selengkapnya »

REKOMENDASI KFI UNTUK KEBIJAKAN FORTIFIKASI PANGAN SKALA LUAS DALAM RPJPN 2025 – 2045

Agenda Pembangunan dalam RPJMN 2020-2024 adalah meningkatkan sumberdaya manusia berkualitas dan berdaya saing yang akan dicapai melalui 7 pendekatan. Tiga pendekatan diantaranya memerlukan dukungan perbaikan pangan dan gizi yaitu: peningkatan produktivitas dan daya saing; pengentasan kemiskinan, dan peningkatan kualitas anak, perempuan dan pemuda. Tantangan terbesar bangsa Indonesia saat ini bukan lagi kurang energi dan protein, …

REKOMENDASI KFI UNTUK KEBIJAKAN FORTIFIKASI PANGAN SKALA LUAS DALAM RPJPN 2025 – 2045 Selengkapnya »

Kontribusi Zat Besi, Seng, dan Vitamin B9 dari Konsumsi Terigu Berdasarkan Data Survei Konsumsi Makanan Indonesia (SKMI) 2014 – Jurnal Ilmu Gizi dan Dietetik

Fortifikasi wajib tepung terigu di Indonesia sudah dilaksanakan selama dua dekade sejak tahun 1998. Selain itu, dalam rangka meningkatkan efektivitas fortifikasi tepung terigu, pemerintah sudah beberapa kali melakukan penyesuaian standar zat gizi mikro yang ditambahkan. Dalam SNI nomor 3751:2018, pemerintah telah melakukan pergantian jenis zat besi fortifikan dari Fe-elemental menjadi Ferro sulfat atau Ferro Fumarat …

Kontribusi Zat Besi, Seng, dan Vitamin B9 dari Konsumsi Terigu Berdasarkan Data Survei Konsumsi Makanan Indonesia (SKMI) 2014 – Jurnal Ilmu Gizi dan Dietetik Selengkapnya »

ID